Langsung ke konten
Senin, 19 Oktober 2026IDEN
Beritika

Saham

Danantara Siap Beli Saham yang Rontok, Rosan Sebut Valuasi Sudah Menarik

Danantara menyatakan siap masuk pasar modal saat IHSG anjlok 11,57%, dengan fokus saham BUMN bank dan infrastruktur yang valuasinya dinilai di bawah rata-rata industri.

Ilustrasi keranjang beli berisi koin RI di bawah grafik IHSG yang menurun, dengan teks Danantara melihat koreksi sebagai peluang jangka panjang

Ilustrasi: Tim Beritika

Saat pasar jatuh berantakan, biasanya ada yang menunggu di bawah untuk membeli — dan kali ini yang menyatakan posisinya adalah dana kekayaan negara (sovereign wealth fund) Danantara Indonesia. Di gedung Bursa Efek Indonesia, pada hari yang sama IHSG ditutup anjlok 11,57%, CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan lembaganya siap masuk ke pasar modal Indonesia. “Kami meyakini, melihat, dan menganalisis bahwa fundamental dari perusahaan-perusahaan kita ini sangat baik,” kata Rosan sebagaimana dikutip Katadata, menegaskan bahwa koreksi ini “peluang investasi” bagi Danantara.

Peta targetnya disebutkan cukup spesifik. Rosan menilai saham bank pelat merah — BBRI, BBNI, BMRI, dan BBTN — masih solid secara fundamental, tetapi “valuasinya mungkin di bawah one time price-to-book value dan ini di bawah average dari median valuasi di peers industri-nya”, ditambah sektor infrastruktur dan telekomunikasi. Angka harga dari Yahoo Finance menunjukkan konteksnya: BBRI ditutup Rp2.640 dari Rp3.100 (turun 14,8%), BMRI Rp3.390 dari Rp3.980 (turun 14,8%), TLKM Rp1.900 dari Rp2.230 (turun 14,8%) — bank-bank terbesar Indonesia efektif diperdagangkan di harga yang tidak pernah terjadi dalam satu dekade terakhir.

Filsafat investasinya pun ditegaskan: Danantara melihat ini sebagai “penempatan modal jangka panjang, bukan sekadar mencari keuntungan dari transaksi jual beli saham dalam waktu singkat”. Rosan berargumen tekanan pasar saat ini “lebih dipengaruhi faktor teknikal, rumor, dan sentimen nonfundamental; bukan persoalan fundamental perusahaan”. Dalam bahasa investasi, itu adalah klaim klasik pembeli saat pasar panik: harga bergerak karena emosi, bukan karena bisnisnya rusak — dan siapa pun yang benar akan dihargai waktu.

Ada logika kelembagaan yang menjelaskan mengapa Danantara bergerak terbuka seperti ini. Pertama, sebagai pengelola aset negara yang memegang kepemilikan di banyak BUMN terbuka, Danantara memiliki alasan langsung menjaga harga saham BUMN dari kejatuhan berlebihan — bukan semata untuk keuntungan, tetapi karena nilai portofolionya sendiri sedang terkikis. Kedua, kehadiran pembeli institusional besar yang terlihat bertahan sering memutus spiral jual panik: pasar berhenti jatuh ketika pemain terbesar menunjukkan ia membeli, bukan menjual. Ketiga, secara politik, pesan “negara hadir di pasar” adalah stabilisator kepercayaan yang tidak bisa diberikan pernyataan biasa.

Namun justru di titik itu ada pertanyaan yang perlu diajukan dengan jernih. Seberapa besar dana yang benar-benar tersedia untuk “menyokok” pasar? Danantara adalah entitas baru yang skala keuangannya masih menjadi perdebatan publik — aset yang dikelolanya berasal dari konsolidasi ekuitas negara di BUMN, yang sebagian besar tidak likuid. Membeli saham BUMN dari pasar berarti mengeluarkan kas nyata; memindahkan kepemilikan antar-BUMN tidak menambah satu rupiah pun permintaan di bursa. Riset CELIOS yang dirangkum media juga mengingatkan: akar masalah nilai pasar yang tergerus bukan kurangnya pembeli, melainkan isu kepercayaan dan tata kelola yang MSCI sebutkan.

Bagi investor ritel Indonesia, pernyataan Danantara paling tepat dibaca sebagai informasi, bukan sinyal untuk meniru begitu saja. Dana negara memiliki horizon puluhan tahun dan kewajiban yang berbeda dari tabungan perorangan; harga yang “murah” bagi dana jangka panjang tetap bisa turun lebih jauh lagi sebelum berbalik — apalagi jika konsultasi MSCI berujung penurunan status yang benar-benar terjadi. Yang objektif bisa dicatat: pemerintah melalui instrumennya memilih tampil sebagai pembeli, bukan penonton — dan perilaku pembelian riil Danantara dalam beberapa pekan ke depan akan lebih informatif daripada pernyataannya.

Beritika akan memantau keterbukaan transaksi Danantara di bursa sesuai aturan keterbukaan informasi BEI.

Perbandingan internasional memberi bingkai yang menarik untuk langkah ini. Dana kekayaan negara sukses di wilayah lain — dari Temasek Singapura hingga PIF Arab Saudi — kerap tampil sebagai pembeli stabilisator di krisis pasar domestiknya. Perbedaannya, dana-dana itu beroperasi dengan mandat yang tertulis, transparansi yang diatur, dan dana yang benar-benar likuid di rekening. Danantara adalah entitas yang masih membentuk semua itu; pernyataan kesiapan membeli hari ini akan diuji oleh keterbukaan informasi BEI, di mana setiap pembelian di atas ambang tertentu harus dilaporkan. Dalam beberapa pekan ke depan, publik bisa menilai sendiri: apakah kesiapan itu dana nyata, atau diplomasi pasar.

Ada juga dimensi yang lebih strategis: pembelian Danantara pada saham BUMN yang murah hari ini adalah keputusan yang mengubah peta kepemilikan Indonesia untuk dekade. Setiap porsi yang dipindahkan dari publik ke negara mengurangi free float — persis metrik yang MSCI keluhkan. Jadi langkah stabilisasi jangka pendek ini membawa konsekuensi struktural jangka panjang yang perlu diimbangi rencana penerbitan saham baru atau divestasi yang bijak. Negara yang membeli sahamnya sendiri saat murah adalah tanda negara yang percaya pada masa depannya — asalkan ia tidak lupa mengembalikan pasar ke publik saat kepercayaan kembali.

Sumber: Katadata; CNBC Indonesia. Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan ditinjau tim editorial Beritika.

  • danantara
  • bumn
  • investasi