Circle, penerbit stablecoin USDC, berencana memasuki sekitar 40 pasar berkembang — dengan permintaan paling kuat datang dari Asia Tenggara, Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah. Demikian CEO sekaligus ketua Circle Jeremy Allaire kepada Reuters, di sela-sila pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, sebagaimana dikutip Cointelegraph dan Decrypt.
“We sedang melewati titik balik… transisi dari fase pengadopsi awal teknologi blockchain menuju fase skalabilitas arus utama,” kata Allaire. Menurutnya, bisnis dan individu di negara berkembang memakai stablecoin untuk masuk ke sistem ekonomi berbasis internet — bukan sekadar spekulasi harga.
Langkah ini bukan tanpa konteks kompetitif: sebagaimana dilaporkan CoinDesk, Circle sedang membela ekonomi USDC dari pesaing stablecoin yang menggoda mitra-mitranya dengan bagi hasil lebih besar. Analis Bernstein pernah memperkirakan siklus pertumbuhan baru USDC didorong kejelasan regulasi Amerika, pasar modal ter-tokenisasi, hingga tanda-tanda awal pemakaian stablecoin dalam pembayaran oleh agen AI.
Untuk Asia Tenggara — kawasan dengan salah satu tingkat adopsi kripto tertinggi di dunia — masuknya Circle secara resmi berpotensi mempercepat pemakaian stablecoin untuk pembayaran riil: dari freelancer yang menerima gaji dolar digital hingga UMKM yang menagih pelanggan lintas negara. Tantangannya tetap sama seperti di Indonesia: kejelasan aturan main dari regulator masing-masing negara.
